TEMPO.CO, Kuala Lumpur - Anggota Parlemen Malaysia yang juga putri Anwar Ibrahim, Nurul Izzah Anwar, ditangkap pada Senin dengan tuduhan penghasutan. Ia ditangkap terkait dengan pernyataannya di depan parlemen yang mengkritik pengadilan. Dia mempertanyakan independensi pengadilan karena menghukum penjara ayahnya.
Ayahnya, tokoh oposisi Anwar Ibrahim, dinyatakan bersalah pada Maret 2014 atas tuduhan sodomi dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Keyakinan itu dikuatkan oleh pengadilan tertinggi Malaysia pada 10 Februari. Anwar membantah tuduhan itu dan menyebutnya sebagai konspirasi politik.
Kecil Yang Menginspirasi title= style=width:100%;text-align:center; onerror=this.onerror=null;this.src='https://encrypted-tbn0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQqXLsd5T79jllEDnAO_ZV1Pbn2ElX_fHaKEM-QdsZYPYQ37z4L_jKJllWwj80RJBJ9nSA&usqp=CAU'; />
Nurul Izzah, putri sulung Anwar, mulai menarik perhatian ketika ayahnya pertama kali dituduh melakukan sodomi pada tahun 1998. Sejak itu, ada spekulasi tentang masa depan politiknya, dan pers menjulukinya sebagai Putri Reformasi Malaysia. Berikut ini fakta tentang Nurul Izzah:
Meet Nurul Izzah
Pada tahun 1998, Nurul Izzah berusia 18 tahun ketika ayahnya pertama kali ditangkap. Dia memberikan wawancara kepada media dan mengunjungi Indonesia dan Filipina untuk mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin negara ini karena mendukung ayahnya secara terbuka.
Ibunya, Dr Wan Azizah Wan Ismail, mengatakan kemudian bahwa dia memiliki begitu banyak kekuatan dari Nurul Izzah, saat itu mahasiswi fakultas teknik. Aku bisa curhat, dia sudah cukup dewasa untuk memahami, kata Dr Wan Azizah.
Sementara dia melobi untuk Anwar di Malaysia dan seluruh ketika ayahnya itu dipenjara 1999-2004, Nurul Izzah secara tidak resmi telah masuk dalam politik Malaysia.
Tahu Hamil Selepas Pru15, Nurul Izzah Kongsi Berita Duka Keguguran
Dia diperkirakan akan mencalonkan diri dalam pemilihan umum tahun 2004, tetapi urung karena dia berfokus pada ujian akhir. Dia menerima gelar sarjana di bidang teknik di Universiti Tenaga Nasional berbarengan dengan hari pembebasan ayahnya.
Pada usia 27 dan masih menyusui bayinya yang empat bulan, Nurul Izzah turut ambil bagian dalam Pemilu 2008. Barisan Nasional kehilangan dua pertiga suara mereka di parlemen untuk pertama kalinya sejak 1969.
Dia maju sebagai wakil di Lembah Pantai, daerah pemilihan di Kuala Lumpur yang merupakan daerah kelas atas namun juga memiliki kantong-kantong kemiskinan. Dengan mendulang 53 persen suara, ia mengalahkan Shahrizat Abdul Jalil, yang merupakan Menteri Perempuan, Keluarga, dan Pengembangan Masyarakat saat itu.
Ulama › Laduni.id
Nurul Izzah mempertahankan kursinya pada pemilu 2013, mengalahkan menteri Kewilayahan Federal, Raja Nong Chik Zainal Abidin. Dia sekarang wakil presiden partai oposisi Partai Keadilan Rakyat (PKR).
Sejak saat itu, Nurul Izzah dijuluki sebagai Putri Reformasi oleh media Malaysia. Dia dikenal dengan pidatonya yang berapi-api, dan ada yang mengatakan dia mengalahkan ayahnya dalam hal ini.
Anwar dan Wan Azizah memiliki lima putri dan seorang putra. Nurul Izzah adalah anak sulung. Anak-anak perempuan lainnya adalah: Nurul Nuha (31 tahun), Nurul Ilham (27 tahun), Nurul Iman (24 tahun), dan Nurul Hana (22 tahun). Sedang satu-satunya anak laki-laki mereka bernama Muhammad Uhsan (29 tahun).
Nurul Izzah Anwar, An Engineering Major At A College In Malaysia
Tahun ini, Nurul Nuha tampaknya mengikuti jejak kakaknya, tapi ia dilaporkan tak semencorong Nurul Izzah. Semua anak-anak Anwar Ibrahim secara terbuka mendukung ayah mereka, dan menyebabkan demonstrasi menuntut pembebasannya tahun ini.
Pada tahun 2003, Nurul Izzah, saat itu berusia 23 tahun, menikah dengan insinyur kimia berusia 26 tahun, Raja Ahmad Shahrir Iskandar. Dia adalah saudara jauh dari keluarga kerajaan Johor.
Keduanya bertemu di London pada 1999 ketika dia pergi untuk mengumpulkan dukungan untuk ayahnya di kalangan mahasiswa Malaysia di sana. Shahris Iskandar adalah seorang mahasiswa di Cambridge. Mereka bercerai pada bulan Januari 2015 dan memiliki hak asuh bersama atas dua anak mereka.
I Love You, Papa”
Konten sponsor pada widget ini merupakan konten yang dibuat dan ditampilkan pihak ketiga, bukan redaksi Tempo. Tidak ada aktivitas jurnalistik dalam pembuatan konten ini.

Dalam akun Twitter-nya, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menulis Harapan yang menggunung. Setelah melalui jalan panjang, akhirnya koalisi oposisi dideklarasikan secara resmi dengan logo bertulisan HARAPAN, yang huruf A keempat berupa anak panah Arjuna- tokoh dalam kisah epik Mahabarata. Dengan pilihan ini, metamorfosis Pakatan Rakyat, partai oposisi Malaysia, membayangkan pemilihan umum yang akan datang sebagai arena perang melawan Karna, yakni Barisan Nasional- partai berkuasa sekarang.In this Malay name, there is no family name. The name Anwar is a patronymic, and the person should be referred to by the giv name, Nurul Izzah.
Nurul Izzah binti Anwar (Jawi: نور العزة بنت أنور ; born 19 November 1980) is a Malaysian politician who has served as Co-chairperson of the Secretariat of the Special Advisory Body to the Minister of Finance (ACFIN) Anwar Ibrahim since February 2023.
Dijuluki 'putri Reformasi', Ini Profil Nurul Izzah
The Member of Parliamt (MP) for Permatang Pauh from May 2018 to November 2022 and for Lembah Pantai from March 2008 to May 2018. A member of the People's Justice Party (PKR), a compont party of the Pakatan Harapan (PH) and formerly Pakatan Rakyat (PR) opposition coalitions. She has also served as the Vice Presidt of PKR from November 2010 to her resignation in December 2018 and again since July 2022.
She is the eldest child and daughter of Prime Minister, Chairman of PH, Presidt of PKR and Tambun MP Anwar and Presidt of PH, Chairwoman of the PKR Advisory Body and Bandar Tun Razak MP Wan Azizah Wan Ismail who are also both the former deputy prime ministers.
Nurul Izzah is the daughter of Anwar Ibrahim, former Deputy Prime Minister of Malaysia, currt Presidt of PKR and currt Prime Minister of Malaysia.
Netizen Suka Tengok Majlis Pernikahan Nurul Izzah Yang Simple
Her mother, Wan Azizah Wan Ismail, was the outgoing Presidt of the party and former Deputy Prime Minister of Malaysia and also former Minister of Wom, Family and Community Developmt.
Prior to being an MP, Nurul Izzah was and still is a strong propont of human and civil rights with a special interest in prisoners of religious prejudice.

Prior to tering politics, Nurul Izzah did her bachelor's degree in Electrical and Electronic gineering from the Universiti Taga Nasional where she graduated from in 2003. She th furthered her studies in the U.S. and earned her master's degree from the School for Advanced International Studies at Johns Hopkins University studying International Relations specializing in Southeast Asia Studies.
Yang Pasti, Sejak 1998 Sehingga Saat Ini”
Nurul Izzah's political career began with the creation of the People's Justice Party (KEADILAN or PKR) in 1999 where she played a vital role in its establishmt and, up until December 2018, was on her second term as highest ranking Vice Presidt Elect, as well as the party's Election Director – a post she holds jointly with Saifuddin Nasution Ismail (former Party Secretary-Geral).
On 17 December 2018, Nurul Izzah announced her resignation as the party's vice presidt as well as chair of its Pang chapter, but retains her post as MP of Permatang Pauh.
Nurul Izzah is the founding member for the Trans-Pacific Partnership Agreemt Caucus; and Wom's Caucus respectively. She also holds the position of Honorary Treasurer on behalf of the Inter-Parliamtary Union Malaysia. She has also moved the Parliamtary Bill in Malaysia's Parliamt to Revoke Emergcy Declarations in the country, including the evtual abolishmt of the Internal Security Act – all of which were adopted by the Prime Minister six months later. Granted, other laws were th re-introduced, in line with Malaysia's semi-autocratic regime.
Radar Bekasi Edisi 7 Juni 2018
Nurul Izzah is also a Board of Director for the Ctre of Reform, Democracy and Social Initiatives and has founded Akademi Manusiawi, a training ctre for future activists and politicians.
Nurul Izzah has worked with a number of agcies and institutes on advocacy work, among them are the Muslim Youth Movemt of Malaysia (ABIM), Suara Rakyat Malaysia (SUARAM), Wom Leaders International Forum (WLIF) and Friedrich-Ebert-Stiftung (FES). She has in the past advocated on behalf of Malaysian political prisoners and Malaysian human rights movemts at the international level, most noted being an intervtion in the main session at the 55th Commission on Human Rights, Geva.
On 20 July 2022, 3 days after the PKR party elections officially ded, she returned to the PKR vice presidcy after being appointed along with two new officeholders Putatan MP Awang Husaini Sahari and Saraswathy Kandasami after resigning from it nearly 4 years prior on 17 December 2018.

Wan Azizah Wan Ismail
In the 2008 geral election, Nurul Izzah contested the seat of Lembah Pantai in Kuala Lumpur. There was speculation that she ran for the seat with the inttion of handing it over to her father, who was disqualified from running for office until April 2008, though she quickly rejected such claims.
The seat was defded by three-term incumbt Shahrizat Abdul Jalil, who was Minister for Wom, Family and Community Developmt in the Barisan Nasional governmt.
Initial reports suggested that Shahrizat would retain the seat, as she had be a popular minister, and in the 2004 election retained her seat with a majority of 15, 288.
Guru Tersentuh Hati Mengajar Anak Dsai “masih Kecil Merindukan Kasih Sayang, Ketika Itu Ayah Mereka Di Dalam Penjara!”
However, on polling day, Nurul Izzah won 21, 728 votes to Shahrizat's 18, 833, and was elected as the new MP for Lembah Pantai.
The defeat of the powerful three-term incumbt by a new face was one of the many surprises in the 2008 election, which saw significant losses of parliamtary seats by the ruling party.
Wh her father returned to electoral politics he did so by replacing his wife and Nurul Izzah's mother, Wan Azizah, in a by-election for the Pang-based seat of Permatang Pauh.
Yang Pasti, Sejak 1998 Hingga Saat Ini Adalah Kewajipan Untuk Kita…,” Titip 'l Love You Papa', Ini Dedikasi Sentuh Hati Nurul Izzah
She was narrowly returned to Parliamt in the 2013 election. The governing Barisan Nasional coalition had targeted her by fielding the incumbt Federal Territories Minister Raja Nong Chik Zainal Abidin as its candidate against her in a high-profile campaign.

In November 2015, Princess Jacel Kiram and Nurul Izzah posted a photo demanding Malaysian Prime Minister Najib Razak to free opposition leader Anwar Ibrahim which was received negatively in the media, prompting Nurul
Komentar